1 Oktober 60 Tahun Lalu : Kabut Yang Masih Berasap Hingga Kini

Selalu menjadi berbincangan hangat yang tak kunjung padam. Manakah yang fakta dan manakah yang propaganda, semua kembali pada kubunya masing-masing dan bagaimana cara melihat sejarah. Sejarah yang nyatanya berantakan menjadi kepingan puzzle, beruntungnya kita mendapat angin segar Reformasi yang memberi kebebasan untuk menyusun bagian puzzle yang tercecer itu, meski tetap saja berakhir parsial dalam kondisi tak beraturan. Sejarah hitam nan kelam yang sudah terkubur, namun gaungnya masih terasa, bahkan mungkin hingga anak cucu kita.

Tidak ada satupun peristiwa dunia yang mana 6 Jenderal dan 1 Perwira Menengah meninggal dalam 1 (satu) malam yang sama. Tidak ada pula rentetan peristiwa yang berkecamuk sejak 1945-1960, Pemberontakan Madiun oleh Musso, PRRI yang muncul pada 1958 dan berpuncak pada peristiwa G30S 1965, yang secara tragis dimiliki oleh negara lain selain yang terjadi di bumi pertiwi. Semua merupakan tanda nyata bahwa pada saat itu Bangsa Indonesia masih begitu alot meraba-raba mana yang sebetulnya cocok untuk kelangsungan hajat hidup negaranya.

Lubang buaya jadi saksi, setelahnya ratusan bahkan jutaan manusia ditumpas oleh sebab afiliasi. Tidak berhenti sampai disitu, siapa saja yang tertangkap diasingkan dan jadi tahanan politik. Pulau Buru di Kepulauan Maluku tempatnya. Pulang dari penahanan,  mereka punya KTP sendiri yang bertulisan eks-Tapol. Siapa yang memiliki itu dan bersanak saudaranya dengannya, jangan bermimpi punya cita-cita bekerja di Pemerintahan, maka berdagang adalah satu-satunya pekerjaan yang paling aman.

Beberapa lini masa yang muncul hingga saat ini, masih menyisakan perdebatan antara mana kebenaran satu dengan yang lain. Tidak ada informasi mutlak, semua masih abu-abu, meraba-raba, penuh dengan asap putih yang tak tahu kemana juntrungnya, seraya membawa argumen klaim kebenarannya masing-masing. Tapi tetap saja, itu adalah pil sejarah yang semua orang lahir di Bumi Pertiwi harus telan, tanpa terkecuali.

Untuk semua yang gugur dalam membela kebaikan dan kebenaran, alfatihah

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top