Malam dingin merasuk di telapak Gunung Merbabu. Udara pagi yang sejuk dihiasi dengan kabut tebal berjarak pandang 50 meter. Lampu bangjo berwarna kuning berkedip-kedip menegaskan bahwa jalanan luas namun tidak ramai, hanya sesekali deru mesin motor yang lalu lalang membawa barang tumpukan pertanda perjalanan panjang dari timur jauh atau barat metropolitan telah sampai di muara. Pagi yang indah kelihatannya. Lalu seketika malam puncak perayaan tiba. Di seluruh penjuru bumi saat ini berseru menyuarakan dengan gegap gempita berkumandang dengan bahagia, dengan nada dan irama yang sama. Semua penuh dengan haru biru kebahagiaan pasca menuntaskan ibadah 30 harian secara kontinyu, penuh dengan ketidaknyamanan namun sangat dirindukan.
Bagaimana tidak? Bangun dan harus menyiapkan makan sahur, mungkin ada yang sudah pergi di hari sebelumnya guna belanja kebutuhan dapur untuk dimasaknya menjadi santapan pembuka di hari pertama puasa. Tak lupa juga dengan masakan penutup sore harinya. Dipersiapkannya dengan penuh wibawa seolah menyatakan bahwa itu adalah hidangan terakhirnya.
Ada juga yang bermodal nekat, yang penting dua-tiga kurma, dan minum dua-tiga teguk air putih saja, sudah cukup menjadi generator pembangkit tenaga. Mata hitam legam dengan wajah yang kumal harus dipaksa keadaan untuk bangun dan membangunkan sanak keluarga, atau mungkin teman kosan, demi bisa mengisi perut bersama. Tidak boleh ada yang tidak makan, kata hatinya.
Yang tidak biasa mengabdi di sepertiga malam, akhirnya turut melawan ego kantuk dan malas untuk mengambil air suci demi bisa bersimpuh di atas sajadah seraya merapalkan doa apapun yang terlintas di benaknya, mungkin karena masih ada waktu setelah santap sahur, atau biar seperti orang alim lainnya. Toh ternyata rasanya enak juga.
Yang menariknya, semua dilakukan oleh banyak orang di seluruh penjuru dunia, serentak dan bersama, tak terhitung jumlahnya. Bak perlombaan lari, semuanya mau tidak mau ikut melangkahkan kaki ke depan saat peluit 1 Ramadhan sudah berbunyi. Namanya juga ajang perlombaan, ada yang tengah jalan terkendala, ada yang kelabakan di meter ke berapa, dan pastinya ada yang terus meyakinkan diri bahwa ia sanggup sampai garis akhir sana. Namun perlu diyakini, semua kalangan sepakat bahwa penghujung finish nun jauh sana adalah cita-cita mulia.
Apapun perbuatan yang sekiranya eman ditinggalkan dan nista dilakukan, baik kepada sesama manusia maupun kepada Tuhan, seketika ingat bahwa ini adalah bulan suci, yang tak pantas ditinggal begitu saja atau bahkan dikotori. Sekalinya ditinggal dan (mungkin sengaja) dibuatnya kotor, sudah menjadi konsekuensi baginya untuk mengulang perlombaan dari garis start lagi, tahun depan. Itupun kalau kebetulan masih dipertemukan.
Seketika bunyi seru-seruan dikumandangkan, semua dinyatakan selesai dari perlombaan. Hasil apapun kudu diserahkan, mau penuh coretan, catatan, keluputan, maupun yang sekiranya mulus layaknya tanpa rintangan. Semua sama-sama diserahkan. Namun, kehendak Tuhan Yang Maha Agung, Ia tidak serta merta mengutuk semua yang miring, nista dan penuh cela. Ia juga tidak langsung mengganjar bagi yang berjalan mulus. Semua kembali pada Kehendak Nya yang Maha atas segala-galanya, mau diapakan hasil akhirnya.
Meditasi 30 harian bukan lantas menjadi pamungkas lalu dinyatakan sebagai alasan bahwa seorang telah sukses melakukannya. Namun ia selayaknya menjadi pengingat perlakuan baik di bulan-bulan berikutnya, hingga bulan suci nan menyucikan itu datang kembali menghampiri, atau mungkin saja tidak. Bahwa perilaku yang sudah disetel secara kontinyu menggerus suasana hati itu lantas tidak berhenti begitu saja. Bahwa suasana kehangatan buka puasa bersama di meja makan keluarga, di kereta monorel atau di bus pengantar jamaah pulang kantor pudar begitu saja. Selayaknya menjadi usaha diri sendiri juga bersama, untuk saling berpegang teguh dengan suasa syahdu dan hangat seperti ini rupanya, yang dilakukan di sebelas bulan berikutnya, hingga mencapai checkpoint bulan suci kesempatan kedua.
Selamat merayakan kebaikan seluruh jagat raya dengan senyum sumringah bahagia. Hari Raya.
1 Syawal 1446 Hijriah.