Kisah sendang di pedalaman desa telah menyebar dari mulut ke mulut. Diyakini siapa yang berhasil menceburkan diri di dalamnya akan pulang membawa jimat keberuntungan. Tak ada satupun orang yang berani melakukan ritual tersebut sebab daerah sendang yang dikenal sangat wingit. Wino meyakini disanalah nasibnya dapat berubah setelah dua kali mengalami kegagalan pemilihan lurah. Harta benda yang ia kumpulkan selama puluhan tahun, raib begitu saja untuk kontestasi yang diharapkan kemenangannya. Namun, nasib berkata lain, ia kembali menjadi sengsara dan ditinggalkan warga.
Sumerto, yang selalu setia menemani Wino, beberapa kali mengingatkan tuannya untuk tidak percaya begitu saja akan cerita dongeng tersebut. Sumerto memang dikenal sosok yang arif dan selalu memberi nasehat saat Wino sedang kacau termasuk disaat kegagalan Wino dalam kontestasi pemilihan lurah. Keberadaan sendang yang sangat sepi, dan tidak ada kehidupan di sekitarnya semakin membuat Sumerto khawatir terhadap Wino, majikannya yang kepadanya sudah belasan tahun ia mengabdi. Segala upaya terus ia lakukan untuk menghalangi tuannya agar benar-benar tidak melakukannya.
Tak sanggup dengan nasib yang ia terima, Wino diam-diam berjalan menuju sendang itu tanpa diketahui Sumerto. Nampak dari dekat ia melihat sendang yang dituju. Bukannya sumringah, wajah Wino berubah menjadi kecut sembari menelan ludah, yang ia temui adalah kolam penuh darah, bau anyir merah pekat. Pada akhirnya, ia pasrah dan memberanikan diri menenggelamkan seluruh badannya demi mendapat jimat yang digadang akan merubah nasibnya. Sesaat setelah melakukan ritual, tampak Sumerto sudah berada di tepi sendang. Sumerto tersenyum, mengayunkan arit di tangannya. Wino membelalak, diam tanpa sepatah kata, menunggu gilirannya.
Asemmm
Gw baca apa ini 🥹🤮